Di tengah kondisi bangsa yang carut marut dan reformasi yang belum tuntas ini. Kehidupan kita semakin menampakan jurang kesenjangan sosial. Hampir setiap hari kita disuguhi informasi tentang korupsi, mafia pajak, keculasan para penegak hukum dan berbagai fenomena kebobrokan tatanan serta para elit pemimpin negeri yang akut terjangkiti moral hazard.

Para remaja bangsa ini, telah mengejutkan sensibilitas publik, bahkan mengagetkan masyarakat dunia. Yaitu, diraihnya juara umum pada Lomba Penelitian Ilmiah Remaja Tingkat Dunia Ke-17 atau 17th International Conference of Young Scientists (ICYS) pada 12- 17 April 2010. Tim Remaja Indonesia yang berkompetisi di semua bidang lomba, yakni Ilmu Fisika, Matematika, Komputer, dan Ekologi meraih tujuh medali emas, satu medali perak, dan tiga medali perunggu. Prestasi ini mengulang kesuksesan Indonesia pada ajang yang sama tahun lalu di Pszcyna, Polandia.

Hal ini menepis anggapan masyarakat dunia yang menyebut, kualitas pendidikan Indonesia rendah, mutu SDM kita terbelakang, penuh keterbatasan dan kekurangan. Anggapan yang terbantah oleh segelintir karya nyata remaja berprestasi.

Prestasi remaja Indonesia ini sama seperti hasil penelitian Merton Flemings, pada tahun 2005. Seorang ilmuwan Massachusetts Institute of Technology (MIT) yang sangat terkejut dengan hasil analisis risetnya, bahwa masa kini para remaja lebih futuristik dibanding orang dewasa.

Merton Flemings, menyebut ekspektasi tekhnologi di masa depan antara kaum remaja dan orang dewasa sangat jauh berbeda. Pemikiran progresif inovatif justru muncul dari kebanyakan remaja. Kemampuan analisis pun, berdasarkan penelitian itu, remaja lebih unggul dibanding orang dewasa.

Berdasarkan fakta dan penelitian itulah, kita menyakini bahwa perubahan besar hanya bisa dilakukan oleh para remaja. Kita tak bisa berharap banyak dari para orang tua pun pemimpin bangsa yang menurut A. Syafii Maarif, negeri kita saat ini sudah hampir sempurna kerusakannya. Berada di buritan peradaban.

Adalah sebuah kebanggaan tersendiri ketika saya diminta untuk memberikan catatan ini yang merupakan salah satu dari tumpukan prestasi anak- anak remaja Lampung yang digawangi oleh Pimpinan Wilayah Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM). Lebih lanjut, mungkin tulisan ini kemudian menjadi nostalgik melankolis, yang diam- diam menyumbat pembuluh darah saya, mencekat tenggorokan untuk menggumam, mereka, para kader IPM itulah kesejatian hakiki, para penafsir makna hidup yang telah tercerahkan. Mereka adalah zeitgeit zaman. Bagaimana tidak, di tengah keterbatasan dan cepitan lingkungan yang memaksa setiap orang untuk lebih matrialis dan individualis, pada geliat kehidupan yang setiap anak masuk secara sadar atau tidak dalam belenggu budaya hedon, masih ada anak- anak remaja yang konsen dalam peningkatan kualitas keshalehan diri untuk keshalehan sosial.

Di tengah anak- anak remaja umum yang gaul, geuvenile deleguency atau kenakalan remaja dalam beragam bentuk yang semakin ironis, sok modern, kemaki, imut- imut, lucu, dan naif itu masih kita temukan sekelompok remaja yang intens menggeluti manifestasi tauladan bagi teman sebaya. Mereka sibuk bergerilya pemikiran dan berdakwah, melaksanakan perkaderan yang dikelola dan difasilitasi sendiri oleh teman seusia. Anak- anak sekecil itu, sudah mampu bukan hanya berpikir soal transformasi sosial, tetapi juga bergerak mewujudkan mimpi- mimpinya. Dus berjuang menjadi suritauladan.

Terkait dengan itu, paparan prestasi remaja yang sudah mengharumkan nama Indonesia dan dunia pendidikan di ranah internasional yang penulis sebut di atas sebenarnya hanya penegasian bahwa remaja lebih bisa kita andalkan memperbaiki tatanan kehidupan ke depan, ketimbang para orang tua Indonesia yang terkenal korup dan anomali. Tesis itulah yang membuat penulis menganggap, untuk memperbaiki keadaan dan menjadi khoiru ummah, kita perlu para muadzin prestasi yaitu, remaja yang mampu memanggil teman sebaya dan lingkunganya untuk merayakan kemenangan.

Perayaan keberuntungan hidup, tidak mungkin ada tanpa kemampuan analitik dari para penafsir makna zaman, yang terhimpun dalam “sekelompok orang” sebagaimana amanat firman Allah dalam Al Quran, surat Ali Imron ayat 104:
“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung.”
Defenisi ma'ruf dalam konteks ayat ini kemudian dimaknai segala perbuatan yang mendekatkan kita kepada Allah; sedangkan munkar ialah segala perbuatan yang menjauhkan kita dari pada-Nya. Sebab, perubahan untuk dunia yang kian terbuka dan di era multimedia sekarang tidak mungkin dilakukan oleh satu orang saja, melainkan diperlukan sistem organisasi yang termaktup dalam ketentuan serta berpegang teguh pada Quran- Hadist.

IPM dalam kaitan ini menemukan relevansinya, merekalah para muadzin prestasi yang terus ada dan menjadi pendulum kesejarahan umat manusia. Yang bukan saja dibanggakan manusia, melainkan Allah pun bangga pada para remaja itu, dimana diriwayatkan dalam salah satu hadist, beribadahnya anak muda lebih dicintai Allah ketimbang ibadahnya orang tua.

Gali Potensi Raih Prestasi

IPM, yang selama ini hanya dikenal sebagai anak yang sekolah di sekolahan Muhammadiyah merupakan anak- anak marginal, anak kelas dua dalam pergaulan dalam tolok ukur pendidikan sebab biasanya, anak yang sekolah di Muhammadiyah adalah mereka yang tidak diterima di sekolah negeri karena tidak lulus tes atau karena orangtuanya tidak mampu membiayai di sekolah negeri yang terkenal mahal itu. Anak sekolah Muhammadiyah adalah anak- anak bodoh dan miskin yang dilukiskan sempurna dalam Laskar Pelangi-nya Andrea Hirata. Ternyata seiring berjalannya waktu, anggapan itu telah mampu diatasi oleh para remaja itu sendiri dengan mencerdasi kehidupannya. Banyak di antara mereka yang selama ini kita anggap sebelah mata, justru menjadi avant garde, garda terdepan sekaligus cahaya yang selalu hidup.

Sebab, tidak ada anak yang tidak memiliki potensi di dunia ini. Persoalanya adalah bagaimana kita mampu mewujudkan potensi- potensi itu menjadi sebuah prestasi, termasuk di dalamnya membuat rekayasa sosial agar lingkungan yang kita tempati menjadi media memprestasikan potensi- potensi kita.

Dalam kaitan itulah, para pelajar sekolah Muhammadiyah yang selama ini dianggap bodoh dan miskin itu diformulasikan oleh pelajarnya sendiri (baca; IPM) untuk ajang pembuktian menggali potensi dan meraih rangkaian prestasi. Jika di Laskar Pelangi, anak yang tidak pandai dalam hal akademik seperti Mahar, ternyata seorang maestro seni dengan bakat dan kejeniusan berkesenian yang luar biasa hingga membanggakan sekolahnya dalam lomba karnaval, ajang bergengsi di level kota tempat tinggalnya. Lalu seorang Harun sekali pun, yang idiot dan paling tua usianya ternyata mampu menenteng koper dan menebar senyum, sampai menyelamatkan sekolah Muhammadiyah untuk tidak ditutup. Apalagi anak- anak secerdas Lintang, Sahara, Ical, Harpani, yang saya yakin betul banyak berada di sekolah- sekolah Muhammadiyah, mereka menunggu waktu sekaligus perlu media yang tepat untuk memprestasikan potensi- potensinya. Pertanyaan yang harus dijawab dan diperlukan adalah IPM mengada, seharusnya untuk itu. Menukil kalimat Deskrates cargito argo sum (berpikirlah maka anda ada), maka bagi anak remaja, perlu dikatakan, ber-IPM-lah niscaya Anda ada.

Laskar Pelangi adalah contoh melodramatik yang diberitakan dan mampu menemukan puncak popularitas sekaligus prestasi. Bagi saya, anak- anak IPM di Lampung justru lebih dari itu. Kita ketahui, anak dari pedalaman semisal Sekampung Udik, Sendang Agung, Kalirejo, Cinta Mulya, Tangkit Batu, Metro, Sukoharjo, Gisting, Kotabumi, Krui dan masih banyak lagi di tempat- tempat lain di pelosok- pelosok dusun di seantero provinsi Lampung yang tidak mungkin disebut semua, lebih berprestasi dari sekedar Mahar, Lintang, Ical, dkk.

Prestasi itu adalah katarsis, kulminasi kesadaran seorang anak yang telah menemukan esensi hidup dan kesejatian akhsanu takwim. Di tengah anak- anak lain yang sibuk mengelola kesenangan kanak- kanak dan dimanjakan fasilitas oleh orangtuanya, mereka bertahan dalam berbagai kekurangan sehingga prinsip hidupnya setiap hari adalah “perang”. Mereka adalah para pemimpin IPM dalam setiap level kepengurusan. Perang untuk membagi waktu dalam beribadah, belajar sekaligus mengajarkan ilmunya, membagi waktu, bahkan beberapa di antaranya sudah berhasil yang dalam term hadist, khairun nas anfauhum linnas. Termasuk menghidupi dirinya sendiri dengan tidak mengandalkan kiriman dari orangtua untuk biaya pendidikanya.

Kepengurusan dalam setiap level dari Pimpinan Ranting (PR) sampai Pimpinan Pusat (PP) IPM sudah menyaring dan membuat langkah pembelajaran ideal. Karena untuk menduduki jabatan kepemimpinan mereka harus mengalami seleksi ketat dan persaingan yang sangat kompetitif, bukan hanya soal kualitas keagamaan yang wajib dimiliki, tapi juga wajib memiliki pengetahuan umum, sekaligus keterampilan baik itu life skill atau berorganisasi dalam maujud tertib ibadah, tertib belajar, dan tertib berorganisasi yang dikenal dalam konsep 3T. Kemudian disempurnakan dalam jabaran 3P atau yang biasa disebut penyadaran, pemberdayaan, dan pembelaan bagi teman sebaya.

Inilah yang membuat anak- anak IPM berbeda dari anak- anak remaja lain, sebab selain mereka harus menyadarkan diri sendiri atas tujuan hidup dalam bentuk- bentuk kajian rutin atau pun gerakan jama’ah dakwah jama’ah, study islam intensif, sampai arena perkaderan yang disebut Taruna Melati (TM) dari level satu sampai TM Utama. Dan banyak lagi gerakan lain yang jika diikuti dapat dipastikan memantik kesadaran siapa pun. Anak manusia dari mana pun.

Baru setelah “sadar” itulah mereka belajar dan beraksi dalam idealisme altruistik yang termaktup dalam konteks “pemberdayaan”. Setelah itu, tahap “pembelaan” bagi teman sebaya yang diorganisir dan sistemik dalam gerakan- gerakan kritis transformatif. Inilah yang membuat anak- anak Muhammadiyah jelas berbeda, bayangkan jika tugas 3P itu secara masif dan sempurna dilakukan oleh para remaja, niscaya dunia akan semakin dikejutkan oleh tataperadaban baru, masyarakat madani yang sejak era 80an sudah disuarakan para intelektual muslim seperti Nurkholis Majid, Emha Ainun Nadjib, Habibie, Amien Rais, M. Amin Abdullah, A. Syafii Maarif, dan lain sebagainya bahwa masa kebangkitan masyarakat utama, islam yang sebenar- benarnya hanya bisa muncul dari gua garba nusantara, yakni Indonesia. Negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia.

Masyarakat Islam yang Sebenarnya

Banyak yang menisbatkan masyarakat madani atau civil society saat ini menjadi konsepsi ideal tatanan kehidupan bermasyarakat. Ernest Gellner dalam Menolak Posmodernisme (Mizan, 1994) memberikan pemikiran yang lebih mendalam tentang masyarakat sipil sekaligus menyelami pergulatan Adam Ferguson sebagai “pencerah” Skotlandia. Dimana Gellner juga mendefenisikan civil society sebagai “masyarakat harmoni”. Dan ini menurut penulis, hanya bisa disuarakan saat ini oleh para remaja yang terlatih dengan disiplin ketat 3T dan 3P tersebut di atas.

Kesepakatan masyarakat sipil sebenarnya adalah kerinduan universal keseluruhan manusia. Persoalannya adalah langkah pencapaian dimana semua orang memiliki interpretasi baik subyektif maupun obyektif. Kita ketahui analisis sintetik dari karakter masyarakat madani adalah pertama, ditemukannya fenomena demokratis. Menurut Neera Candoke (1995:5-5) social society berkaitan dengan public critical rational discource yang secara ekplisit mempersyaratkan tumbuhnya demokrasi. Dalam kerangka itu hanya negara yang demokratis yang menjamin adanya masyarakat madani.

Pelaku manusia dalam suatu struktur masyarakat cenderung saling menyumbat pertumbuhan masyarakat sipil, mekanisme demokrasilah yang memiliki kekuatan untuk mengkoreksi kecenderungan itu. Sementara untuk tumbuhnya demokratisasi dibutuhkan kesiapan anggota masyarakat berupa kesadaran berpribadi, kesetaraan, dan kemandirian. Syarat- syarat tersebut dalam konstalasi relatif memiliki linearitas dengan kesediaan untuk menerima dan memberi (take and give) secara berimbang. Maka dalam konteks ini pula, mekanisme kesadaran setiap individu remaja merupakan bagian terpenting menuju tatanan masyarakat ideal tersebut.

Suka atau tidak, inilah realitas kebijakan yang sekarang dianut negeri kita, bahkan menjadi pandangan dunia, yang kemudian diterima oleh Muhammadiyah dalam konsekwensi berbangsa dan bernegara. Persoalan inilah yang perlu penulis sampaikan untuk minimal menjadi ruang dialektika agar para remaja yang membanggakan seperti teman- teman IPM dimana pun berada, mampu menjadi penyeru, pemegang mandat kultural dan pewaris sifat- sifat kenabian. Ya, pandangan ini menegaskan bahwa dipundak para remaja yang terhimpun dalam IPM itulah, semua tentang kesempurnaan hidup bumi ini bergantung. Dalam konseptual ideal ini, kita melihat tanda- tanda itu.

Tanda- tanda yang membuat saya yakin dan bangga berkata, anggota IPM adalah para muadzin prestasi dan penafsir makna zaman. Merekalah para manusia profetik yang bakal membuat harmoni dunia. Pelangsung dan penyempurna embrional pemikiran masyarakat islam yang sebenar- benarnya. Dunia menunggu karya nyata kalian, anak- anak IPM, yang beruntung sudah sekolah di Muhammadiyah. (Endri Y.)

2010

Muadzin Prestasi dan Penafsir Makna Zaman

Comments : 0
Posted: Jumat, 24 Oktober 2014



Sewaktu terpilih pertama kali tahun 2008, dunia Islam, termasuk saya, banyak berharap bahwa melalui Barack Obama Amerika Serikat akan memperbaiki hubungannya dengan dunia Islam. Di ruang ini, beberapa artikel telah saya tulis tentang harapan itu.


Apalagi, Obama, presiden kulit hitam pertama di Amerika, pernah pula tinggal di Indonesia, rasanya akan ada perubahan mendasar dalam politik luar negara itu, khususnya yang bertalian dengan pemanjaan Israel Zionis. Janji Obama dalam pidatonya di Mesir tidak lama setelah menduduki Gedung Putih untuk memperbaiki hubungan dengan umat Islam menorehkan sinyal bahwa rezimnya akan menempuh arah baru yang lebih adil, terbebas dari ketiak zionisme.



Saya akhirnya kecewa berat. Obama tetap saja membela Israel di tengah-tengah keganasannya menghabisi rakyat Palestina di Jalur Gaza tanpa menghiraukan protes internasional. Di ruang ini saya telah berulang menulis bahwa zionisme, mengutip Gilad Atzmon, tidak bisa bisa menjadi bagian dari kemanusiaan karena sifatnya yang rasial dan supremasis.



Dunia beradab hanya punya satu pilihan: mengisolasi Israel dari pergaulan dunia. Memang ada tanda-tanda ke jurusan itu, tetapi gerak tanda sangat lamban, sedangkan Amerika tetap saja melindungi dan mengguyur dengan dolar anak angkatnya itu sampai detik ini. Obama tak berkutik.



Bagaimana dengan negara-negara Arab? Tuan dan puan jangan lagi berharap; mereka telah kehilangan perspektif masa depan dan tak berdaya menghadapi Zionisme yang sangat biadab itu. Dunia Arab sedang berada di jalan buntu.



Negara-negara yang kaya minyak umumnya dipimpin oleh mereka yang tunakepekaan moral. Alquran tidak mau berbicara kepada otak dan hati yang dingin membeku. Sangat tragis. Tetapi, inilah fakta yang sangat keras dan gelap yang berada di depan kita.



Negeri-negeri mayoritas Muslim, seperti Indonesia, paling-paling hanya berdaya secara verbal mengutuk Israel sambil sekadarnya membantu rakyat Gaza, tidak bisa lebih dari itu. Adapun kelompok garis keras lebih bernafsu membunuh orang Islam, umat Kristen yang tak berdaya.



Terhadap zionisme, kelompok ini diam seribu bahasa. Maka adanya dugaan mereka ini direkayasa oleh musuh Islam, bukanlah sebuah kemustahilan. Bukankah Hillary Clinton pernah mengatakan bahwa Alqaidah adalah ciptaan Amerika?



Alangkah beratnya menjadi manusia bodoh, sering benar dipermainkan oleh pihak lain. Itulah sebabnya Alquran sejak 15 abad yang lalu meningatkan bahwa “Allah akan mengangkat posisi orang beriman dan berilmu beberapa tingkat.”(Lihat al- Mujadalah: 11).



Iman tanpa ilmu akan buta terhadap realitas, dan ilmu tanpa iman akan kehilangan jangkar spiritual. Umat Islam belum juga mau paham makna yang terdalam dari ayat ini. Oleh sebab itu, jika kita terhina dalam perlombaan peradaban, jangan salahkan Tuhan, kesalahan sepenuhnya berada pada diri kita sendiri yang terlalu lama mendengkur di siang hari.



Selama umat Islam belum mampu mengawinkan kekuatan iman dan kekuatan ilmu dalam sebuah keseimbangan dan ketegangan kreatif, waktu masih akan lama lagi bagi kita untuk dapat membebaskan diri dari segala macam tipu daya pihak lain yang memang ingin menghalau Islam dari permukaan bumi.



Maka, siapa pun presiden Amerika yang akan tampil nanti sesudah Obama, umat Islam, terutama saya, jangan cepat menaruh harapan. Harapan baru akan punya alasan yang kuat, di saat umat Islam berhasil membebaskan diri dari kedunguan peradaban, di mana posisi iman dan ilmu telah saling melengkapi dan kita menjadi umat siuman sejati yang sepenuhnya paham akan tugas dan tanggung jawab sejarah sebagai wasit perjalanan sejarah kemanusiaan.



Dalam posisi sekarang, kita termasuk manusia pandir, ke kanan tak tahu jalan, ke kiri pun bingung. Kita sedang menjadi tontonan pihak lain. Alangkah hinanya.



Kita tutup dengan doa, “Ya, Allah, janganlah Engkau sampai bosan menyinari hati kami yang sering membeku ini dengan cahaya firman-Mu! Kami sedang kehilangan arah. Oleh sebab itu, berilah kami petunjuk agar kami sadar benar akan tanggung jawab kami, sebagai penerus risalah mulia dan abadi dari nabi dan rasul akhir zaman, Muhammad SAW. Dia adalah hamba dan kekasih-Mu, yang rohnya di alam barzah sana tentu sangat risau menonton kelakuan kami yang ganjil dan tidak tulus. Amin.”


Sumber : Republik Online, Tanggal Muat:12/08/2014 3:07:00 [admin]

Obama di Ketiak Zionis

Comments : 0
Posted: Rabu, 20 Agustus 2014


Catatan Kaki Jodhi Yudono

Pada minggu kedua bulan Februari ini, kita beroleh pelajaran berharga dari percakapan Najwa Shihab dan Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini melalui acara Mata Najwa yang ditayangkan melalui Metro TV pada 12 Februari 2014.

Lantas, Metro TV juga memutar ulang tayangan tersebut sepekan sesudahnya. Maka, kita pun menjadi saksi atas kebaikan hati perempuan bernama Tri Rismaharini ini. Cerita kebaikan beliau bermunculan di mana-mana, terutama melalui media sosial. Tak kurang, Guru Besar Fakultas Psikologi Universitas Indonesia Sarlito Wirawan menulis kesalehan perempuan sederhana yang hebat itu. Saya juga mendapatkan sebuah artikel di Kompasiana yang menulis begini:

Saat akan dipilih sebuah partai untuk mejadi calon wali kota Surabaya, dia menelepon seorang kiai pimpinan pesantren untuk meminta doa agar tidak terpilih menjadi wali kota. Alasannya, sebagai perempuan dia tidak sekuat Umar bin Khattab yang mampu memanggul beras untuk orang-orang miskin.

Hal ini tidak lepas dari cerita yang sampai kini terus diingatnya saat di sekolah madrasah dulu, dan entah mengapa cerita itu terus diingatnya saat menjadi wali kota, yakni cerita seorang ibu yang memasak batu untuk menghibur anaknya. Padahal sang ibu saat itu tidak punya sesuatu untuk dimasak. Bagaimanapun dan selama apa pun batu dimasak, maka juga tidak akan matang. Saat itu Khalifah Umar bin Khattab tahu karena "blusukan" ke kampung-kampung.

Ya, Bu Risma memang ingin meniru Umar bin Khatab sebagai seorang pemimpin. Yakni pemimpin yang tahu persoalan rakyatnya, terutama mereka yang miskin dan papa. Bu Risma juga ingin meniru sahabat Umar yang ingin menjadikan Surabaya seperti Madinah dalam hal toleransi beragama maupun antar-etnis.

Ketika Risma benar-benar terpilih menjadi wali kota, beliau pun melaksanakan keinginannya membantu satu per satu orang miskin di Surabaya agar kelak di akhirat dia tidak mendapat murka dari Allah SWT.

Selain datang ke berbagai kampung di Surabaya, dia juga mengumpulkan seluruh lurah dan camat agar mendata orang-orang yang membutuhkan bantuan di daerah mereka. Di mobilnya juga selalu ada beras yang dibawa.

Tak cuma di dalam negeri empati Risma terhadap rakyatnya teruji, saat di luar negeri pun ingatan Risma hanya kepada rakyatnya semata, tidak pada oleh-oleh barang mewah seperti yang dilakukan oleh bupati atau wali kota lain saat mendapat undangan ke negeri Swiss beberapa waktu lalu.

Saat di Swiss, si penulis blog di Kompasiana yang bernama Arif Khunaifi itu menulis, banyak sekali bupati dan wali kota sedunia yang belanja jam tangan. Irfan, kepala satpol PP yang mendampingi Ibu Risma, mengatakan bahwa harga jam tangan Rp 125 juta, dan sudah banyak bupati dan wali kota yang membelinya.

Kemudian Irfan datang lagi dan mengatakan, ada bupati yang wilayahnya masih bertetangga dengan Surabaya yang membeli jam tangan seharga Rp 275 juta. Kemudian Bu Risma mengatakan kepada Irfan agar tidak bercerita lagi mengenai mereka. Namun, Bu Risma sempat berpikir, dari mana mereka dapat uang sebanyak itu? Dia juga berpikir alangkah banyak beras yang bisa dibeli untuk orang miskin.

***

TRIBUNNEWS/DANY PERMANA
Wali Kota Surabaya, Jawa Timur, Tri Rismaharini (kiri), usai menerima Piala Adipura Kencana dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di Istana Negara, Jakarta, Senin (10/3/2013). Perayaan Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2013 diperingati dengan pemberian penghargaan Adipura bagi kota/provinsi dan Kalpataru bagi individu yang peduli pada lingkungan hidup.
Ada hal yang selama ini kita cari bernama keteladanan, namun selalu saja luput kita dapatkan, lantaran sebagian yang kita kira bernama teladan ternyata tak lebih hanya kepura-puraan atau pencitraan. 

Sampai akhirnya kita pun mendapat kesimpulan bahwa apa yang kita saksikan tentang pemimpin di televisi dan media lainnya tak lebih dari "tipu-tipu" dan bualan semata. Maka gambaran tersebut pun kian memperlihatkan bentuknya yang vulgar saat pemilu menjelang. Mereka yang kita tahu tak pernah terlibat dalam urusan orang miskin, kesehatan, pendidikan, dan masa depan bangsa ini, hari-hari belakangan "berpura-pura" jadi jagoan yang seolah peduli dengan derita wong cilik.

Untunglah, kepekaan kita sudah terlatih, tahu bagaimana memilah dan memilih; siapa yang tulus dan siapa yang berakal bulus.

Pengalaman juga yang akhirnya mengajarkan bahwa ada yang tak bisa dibuat-buat, dan itu bernama ketulusan. Sebuah kata yang mampu memancarkan resonansi dan menggerakkan siapa pun yang masih memiliki nurani dan rindu akan kebenaran. 

Ketulusan dan teladan, itulah yang bisa kita tangkap dari Tri Rismaharini. Getaran yang dipancarkan dari ketulusan hati dan keteladanan Ibu Risma selama ini, menggerakkan sebagian besar pemirsa. Tanpa dikomando, para pemirsa pun turut menangis saat Ibu Risma menangis. Ikut tersenyum saat beliau tersenyum. Maka tak heran, jika pada hari itu Ibu Risma menjadi trending topic di jejaring sosial Twitter. Para pengguna media sosial itu pun berkicau menguatkan hati Risma dan memintanya tak mundur dari jabatan wali kota Surabaya lantaran rakyat di ibu kota Provinsi Jawa Timur itu masih membutuhkan kepemimpinan Risma. Bahkan Najwa Shihab sebagai pewawancara tak kuasa untuk "melibatkan" diri dengan segenap perasaan dan meminta Risma mengurungkan niatnya untuk mundur dari jabatan wali kota. Di Twitter ramai beredar kicauan dengan tagar #Saverisma.

"Ibu janji ya, enggak akan mundur sebagai wali kota Surabaya," pinta Najwa, sebuah permintaan yang tidak lazim dari seorang pewawancara (jurnalis) karena telah bertindak subyektif. Namun maklumlah, Najwa cuma manusia biasa, dan bisa jadi memang benar, Najwa menangkap keinginan yang tulus dari pemirsanya, terutama warga Jawa Timur yang menghendaki Risma tak mundur.

Risma menggeleng, dan dia tidak mau berjanji. Sebab katanya, dia takut berdosa jika melanggar janjinya. ”Nanti kalau saya dipanggil dan ditanya Tuhan dan saya tidak bisa menjawab, saya tidak akan masuk surga. Saya tidak mau tidak masuk surga!” ujar Risma.

Lalu Najwa pun mengingatkan Risma betapa rakyat Surabaya masih membutuhkan dirinya.

Saat disinggung mengenai rakyat itulah, air mata Risma meleleh. Kata-katanya lirih. Jika ada yang masih membuatnya bertahan pada jabatannya sebagai wali kota, ialah rakyat yang masih memerlukan kasih sayangnya sebagai seorang ibu, seorang wali kota. Ia mengaku, tugas yang diembannya sangat berat.

Maka Najwa pun bertanya, ”Masih tegakah Ibu mengundurkan diri sebagai wali kota, walaupun sudah menerima 51 penghargaan dan calon wali kota terbaik dunia? Apa yang saya harus katakan kepada warga Surabaya?”

Di dalam wawancara itu, selain membahas isu rencana pengunduran dirinya sebagai Wali Kota Surabaya, Risma juga menuturkan kisah anak-anak yang menjadi pekerja seks komersial di kawasan Dolly, Surabaya. Ia terisak. Bahkan tak mampu menjawab pertanyaan Najwa selanjutnya.

Menjelang akhir tayangan, Najwa kembali menanyakan niatnya untuk mundur. Berulang kali air mata Risma menetes, ia menangis. Terutama, ketika ditanya, apakah ia masih berkeinginan kuat untuk mundur, sementara banyak masyarakat kecil yang berharap kepadanya?

"Itu yang saya pikirkan. Saya cari mereka satu-satu. Anak yatim kami berikan makan tiga kali sehari, lansia, anak miskin bisa sekolah, anak miskin pandai kami berikan beasiswa. Bahkan, ada yang dikirim ke Malaysia untuk S-1 sampai S-3. Saya cari satu-satu. Saya minta ke lurah untuk mencari, saya nitip ke warga. Itu yang saya pikirkan. Itu saja yang jadi pertimbangan saya. Kalau yang lain, saya bisa ngatasin," papar Risma.

Risma mengaku, ada sejumlah risiko terkait jabatannya. Ancaman pernah diterima anaknya. Namun, ia mengaku ikhlas jika sesuatu terjadi padanya karena apa yang dilakukannya selama menjabat sebagai wali kota Surabaya.

"Saya sudah ikhlas kalau itu terjadi pada saya. semua hanya titipan, tinggal Tuhan kapan ambilnya. Itu rahasia Ilahi. Saya tidak tahu nanti sore, besok. Saya sudah sampaikan, itu risiko (ke keluarga). Waktu saya nyalon kan keluarga saya tidak ikhlas. Tapi, saya enggak ngira kalau jadi. Setelah jadi, saya jalani saja takdir Tuhan," katanya. 

Ketika pertanyaan kembali mengarah pada keinginannya mundur, air mata Risma kembali menetes. Ini yang disampaikannya kepada para warga Surabaya.

"Saya selama ini sudah berikan yang terbaik untuk warga Surabaya. Semua yang saya miliki sudah saya berikan. Saya tidak punya apa-apa lagi, semua sudah saya berikan, ilmu saya, pikiran saya, bahkan kadang anak saya pun tidak terlalu saya urusi. Tapi, saya percaya, kalau saya urusi warga Surabaya, anak saya diurusi Tuhan. Saya sudah berikan semuanya, jadi saya mohon maaf," katanya dengan berurai air mata.
***

Wikipedia mencatat, perempuan bernama Ir Tri Rismaharini, MT, atau terkadang ditulis Tri Risma Harini lahir di Surabaya, Jawa Timur, 20 Oktober 1961 dan menjabat Wali Kota Surabaya sejak 28 September 2010.

Sebelum terpilih menjadi wali kota, Risma pernah menjabat Kepala Dinas Kebersihan dan Pertamanan (DKP) dan Kepala Badan Perencanaan Kota Surabaya hingga tahun 2010.

Sederet taman kota yang dibangun di era Tri Risma adalah pemugaran taman Bungkul di Jalan Raya Darmo dengan konsepall-in-one entertainment park, taman di Bundaran Dolog, taman Undaan, serta taman di Bawean, dan di beberapa tempat lainnya, yang dulunya mati dan kini tiap malam dipenuhi oleh warga Surabaya. Selain itu Risma juga berjasa membangun jalur pedestrian dengan konsep modern di sepanjang Jalan Basuki Rahmat yang kemudian dilanjutkan hingga Jalan Tunjungan, Blauran, dan Panglima Sudirman.

Di bawah kepemimpinannya pula Kota Surabaya meraih tiga kali Piala Adipura yaitu tahun 2011, 2012, dan 2013 kategori kota metropolitan. Selain itu, kepemimpinan Tri Risma juga membawa Surabaya menjadi kota yang terbaik partisipasinya se-Asia Pasifik pada tahun 2012 versi Citynet atas keberhasilan pemerintah kota dan rakyat dalam berpartisipasi mengelola lingkungan. Pada Oktober 2013, Kota Surabaya di bawah kepemimpinannya memperoleh penghargaan tingkat Asia-Pasifik, yaitu Future Government Awards 2013 di 2 bidang sekaligus yaitu data centerdan inklusi digital, menyisihkan 800 kota di seluruh Asia-Pasifik.

Belum setahun menjabat, pada tanggal 31 Januari 2011 Ketua DPRD Surabaya Whisnu Wardhana menurunkan Risma dengan hak angketnya. Alasannya adalah karena adanya Peraturan Wali Kota Surabaya (Perwali) Nomor 56 tahun 2010 tentang Perhitungan nilai sewa reklame dan Peraturan wali kota Surabaya Nomor 57 tentang perhitungan nilai sewa reklame terbatas di kawasan khusus kota Surabaya yang menaikkan pajak reklame menjadi 25 persen. Risma dianggap telah melanggar undang-undang, yaitu Peraturan Menteri Dalam Negeri (Permendagri) nomor 16/2006 tentang prosedur penyusunan hukum daerah dan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 yang telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2008, sebab Wali Kota tidak melibatkan Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) terkait pembahasan dan penyusunan Perwali.

Keputusan ini didukung oleh 6 dari 7 fraksi politik yang ada di dewan, termasuk PDI-P yang mengusungnya. Hanya fraksi PKS yang menolak dengan alasan tindakan pemberhentian dirasa "terlalu jauh" dan belum cukup bukti dan data.
***

Jalan Tuhan, itulah yang diambil oleh Risma. Karenanya, dia tidak pernah gentar dengan siapa pun dan apa pun sejauh dirinya melaksanakan tindakan untuk kepentingan rakyat Surabaya. Berbagai teror dan tekanan yang datang tak pernah menciutkan nyalinya untuk 
melangkah. Bahkan kepada keluarganya, Risma telah berpamit jika sewaktu-waktu maut menjemput saat dirinya bertugas, keluarganya harus mengikhlaskannya dan tak boleh menuntut siapa pun.

Semua yang dilakukannya bertumpu pada keyakinannya sebagai seorang Muslimah yang mengerti benar ajaran Nabi Muhammad, bahwa dirinya juga harus mengasihi mereka yang tak seiman. Ya, seperti yang dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW saat memimpin Madinah yang menjunjung tinggi keberagaman dan membentuk masyarakat madani. Seperti yang dicontohkan oleh sahabat Umar bin Khatab yang sedemikian takutnya kepada Tuhan jika dirinya tak mampu mengangkat kehidupan rakyatnya yang miskin dan papa.

Pada titik tertentu, sebagai manusia biasa, saya pun seperti Najwa dan juga masyarakat Kota Surabaya yang tak rela jika Risma mundur dari jabatannya sebagai wali kota. Sebab kami menyayangi Ibu Risma, kasih sayang yang terbit dari kebaikan Ibu yang telah mengasihi rakyat Surabaya tanpa batas. Jangan mundur Bu, jutaan orang yang masih menjaga nuraninya tetap bersama Bu Risma. Termasuk saya.

@JodhiY

Ibu yang bersahaja dari kota pahlawan

Comments : 0
Posted: Selasa, 18 Februari 2014
Gambar Kilat Gunung Kelud


















Letusan Gunung Kelud




Pasca Letusan Kelud









Foto-foto ekslusif kilat, letusan dan pasca letusan Kelud

Comments : 0
Posted: Jumat, 14 Februari 2014

Iblis berkhutbah…??, benar… ia berkhutbah… bahkan khutbah yang paling menyentuh hati… tidak ada khutbah yang menyentuh hati sebagaimana khutbah Iblis ini.

Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah berkata :

ﺇِﺫَﺍ ﻛَﺎﻥَ ﻳَﻮْﻡُ ﺍﻟْﻘِﻴَﺎﻣَﺔِ ، ﻗَﺎﻡَ ﺇِﺑْﻠِﻴْﺲُ ﺧَﻄِﻴْﺒًﺎ ﻋَﻠَﻰ ﻣِﻨْﺒَﺮٍ ﻣِﻦْ ﻧَﺎﺭٍ ،
ﻓَﻘَﺎﻝَ : ﺇِﻥَّ ﺍﻟﻠﻪَ ﻭَﻋَﺪَﻛُﻢْ ﻭَﻋْﺪَ ﺍﻟْﺤَﻖِّ ﻭَﻭَﻋَﺪْﺗُﻜُﻢْ ﻓَﺄَﺧْﻠَﻔْﺘُﻜُﻢْ

"Tatkala hari kiamat Iblis berdiri di atas sebuah mimbar dari api lalu berkhutbah seraya berkata, "Sesungguhnya Allah telah menjanjikan kepadamu janji yang benar, dan akupun telah menjanjikan kepadamu tetapi aku menyalahinya…" (Tafsiir At-Thobari 16/563)

Al-Haafizh Ibnu Katsiir rahimahullah berkata :

ﻳُﺨْﺒِﺮُ ﺗَﻌَﺎﻟَﻰ ﻋَﻤَّﺎ ﺧَﻄَﺐَ ﺑِﻪِ ﺇِﺑْﻠِﻴْﺲُ ﺃَﺗْﺒَﺎﻋَﻪُ، ﺑَﻌْﺪَﻣَﺎ ﻗَﻀَﻰ ﺍﻟﻠﻪُ ﺑَﻴْﻦَ
ﻋِﺒَﺎﺩَﻩُ، ﻓَﺄﺩﺧﻞ ﺍﻟﻤﺆﻣﻨﻴﻦ ﺍﻟﺠﻨﺎﺕ، ﻭﺃﺳﻜﻦ ﺍﻟﻜﺎﻓﺮﻳﻦ ﺍﻟﺪﺭﻛﺎﺕ،
ﻓﻘﺎﻡ ﻓﻴﻬﻢ ﺇﺑﻠﻴﺲ -ﻟﻌﻨﻪ ﺍﻟﻠﻪ - ﺣﻴﻨﺌﺬ ﺧﻄﻴﺒﺎ ﻟﻴﺰﻳﺪﻫﻢ ﺣﺰﻧﺎ ﺇﻟﻰ
ﺣﺰﻧﻬﻢ )4 ( ﻭﻏَﺒﻨﺎ ﺇﻟﻰ ﻏﺒْﻨﻬﻢ، ﻭﺣﺴﺮﺓ ﺇﻟﻰ ﺣﺴﺮﺗﻬﻢ

"Allah mengabarkan tentang khutbah yang disampaikan oleh Iblis kepada para pengikutnya, yaitu setelah Allah memutuskan/menghisab para hambaNya, lalu Allah memasukan kaum mukminin ke surga, dan Allah menempatkan orang-orang kafir ke dalam neraka jahannam. Maka Iblispun tatkala itu berdiri dan berkhutbah kepada para pengikutnya agar semakin menambah kesedihan di atas kesedihan mereka, kerugian di atas kerugian, serta penyesalan di atas penyesalan…." (Tafsiir Al-Qur'an Al-'Adziim 4/489)

Khutbah tersebut disampaikan oleh Iblis kepada para pengikutnya pada saat yang sangat menegangkan. Tatkala mereka pertama kali dimasukkan ke dalam neraka jahannam. Tatkala mereka telah melihat api yang menyala-nyala yang siap membakar mereka…!!! Khutbah tersebut benar-benar masuk ke dalam hati para pengikut Iblis, Khutbah yang mengalirkan air mata mereka khutbah yang benar-benar telah menyadarkan mereka akan kesalahan kesalahan mereka…

Khutbah yang menyadarkan mereka bahwasanya selama ini mereka hanya terpedaya oleh sang pemimpin…sang khotiib…Iblis la’natullah 'alaihi Allah menyebutkan khutbah Iblis yang sangat menyentuh tersebut:

ﻭَﻗَﺎﻝَ ﺍﻟﺸَّﻴْﻄَﺎﻥُ ﻟَﻤَّﺎ ﻗُﻀِﻲَ ﺍﻷﻣْﺮُ ﺇِﻥَّ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﻭَﻋَﺪَﻛُﻢْ ﻭَﻋْﺪَ ﺍﻟْﺤَﻖِّ
ﻭَﻭَﻋَﺪْﺗُﻜُﻢْ ﻓَﺄَﺧْﻠَﻔْﺘُﻜُﻢْ ﻭَﻣَﺎ ﻛَﺎﻥَ ﻟِﻲ ﻋَﻠَﻴْﻜُﻢْ ﻣِﻦْ ﺳُﻠْﻄَﺎﻥٍ ﺇِﻻ ﺃَﻥْ
ﺩَﻋَﻮْﺗُﻜُﻢْ ﻓَﺎﺳْﺘَﺠَﺒْﺘُﻢْ ﻟِﻲ ﻓَﻼ ﺗَﻠُﻮﻣُﻮﻧِﻲ ﻭَﻟُﻮﻣُﻮﺍ ﺃَﻧْﻔُﺴَﻜُﻢْ ﻣَﺎ ﺃَﻧَﺎ
ﺑِﻤُﺼْﺮِﺧِﻜُﻢْ ﻭَﻣَﺎ ﺃَﻧْﺘُﻢْ ﺑِﻤُﺼْﺮِﺧِﻲَّ ﺇِﻧِّﻲ ﻛَﻔَﺮْﺕُ ﺑِﻤَﺎ ﺃَﺷْﺮَﻛْﺘُﻤُﻮﻧِﻲ ﻣِﻦْ
ﻗَﺒْﻞُ ﺇِﻥَّ ﺍﻟﻈَّﺎﻟِﻤِﻴﻦَ ﻟَﻬُﻢْ ﻋَﺬَﺍﺏٌ ﺃَﻟِﻴﻢٌ ) ٢٢ (ﻭَﺃُﺩْﺧِﻞَ ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﺁﻣَﻨُﻮﺍ
ﻭَﻋَﻤِﻠُﻮﺍ ﺍﻟﺼَّﺎﻟِﺤَﺎﺕِ ﺟَﻨَّﺎﺕٍ ﺗَﺠْﺮِﻱ ﻣِﻦْ ﺗَﺤْﺘِﻬَﺎ ﺍﻷﻧْﻬَﺎﺭُ ﺧَﺎﻟِﺪِﻳﻦَ ﻓِﻴﻬَﺎ
ﺑِﺈِﺫْﻥِ ﺭَﺑِّﻬِﻢْ ) ٢٣ )

"Dan berkatalah syaitan tatkala perkara (hisab) telah diselesaikan: "Sesungguhnya Allah telah menjanjikan kepada kalian janji yang benar, dan akupun telah menjanjikan kepada kalian tetapi aku menyalahinya. sekali-kali tidak ada kekuasaan bagiku terhadap kalian, melainkan (sekedar) aku menyeru kalian lalu kalian mematuhi seruanku, oleh sebab itu janganlah kalian mencerca aku akan tetapi cercalah diri kalian sendiri. Aku sekali-kali tidak dapat menolong kalian dan kalian pun sekali-kali tidak dapat menolongku. Sesungguhnya aku tidak membenarkan perbuatan kalian yang mempersekutukan aku (dengan Allah) sejak dahulu". Sesungguhnya orang-orang yang zalim itu mendapat siksaan yang pedih". Dan dimasukkanlah orang-orang yang beriman dan beramal saleh ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya dengan seizin Tuhan mereka" (QS Ibrahim : 22-23)

Demikianlah khutbah Iblis tersebut….setelah ia menggoda manusia setelah menipu mereka…setelah menjerumuskan mereka dalam neraka…setelah tercapai cita citanya…lalu… Iapun berlepas diri dari para pengikutnya. Ia sama sekali tidak mau bertanggung jawab atas godaan-godaannya…


Bahkan ia sama sekali tidak mau disalahkan dan dicela…akan tetapi ia menyuruh mereka (para pengikutnya) untuk mencela diri mereka sendiri Bahkan ia mengaku sejak dulu kufur/ingkar terhadap kesyirikan yang dilakukan oleh pengikutnya… Yang lebih menjadikan para pengikutnya tersentuh, Iblis menutup khutbahnya dengan menyatakan bahwa:

"Sesungguhnya orang-orang zalim mendapatkan siksaan yang pedih"…lalu Iblis menyebutkan tentang kenikmatan penduduk surga, yaitu orang-orang yang tidak mau menjadi pengikut Iblis…!!! Sungguh kehinaan dan kesedihan yang tidak bisa terbayangkan dalam hati para penghuni neraka tatkala mendengar khutbah dari sang pemimpin…


Semoga Allah menjaga kita dari rayuan Iblis, jangan sampai kita termasuk dari orang-orang yang tersentuh karena kutbah Iblis ini orang-orang yang tatkala di dunia tidak tersentuh oleh nasehat-nasehat, tidak tergerak hati mereka tatkala mendengar pengajian-pengajian dan khutbah-khutbah. Hati mereka hanyalah tergerak dan tersentuh tatkala mendengar khutbah Iblis….wal'iyaadzu billah.

Sumber: kaskus

Khutbah Iblis yang Menyentuh

Comments : 0

Beberapa  hari  ini  saya  sempat searching dengan menggunakan google tentang hari-hari penting pada  tanggal 14 februari,  karena  tanggal itu begitu populer  dengan peringatan Valentine Day's. Saya sempat  menemukan  beberapa  sumber dan referensi tentang sejarah Pemberontakan tanah Air  (PETA)  di  Blitar  yang  bertepatan  juga  pada  tanggal  14  Februari.  Mungkin  tidak banyak orang  tau  tentang   heroiknya  perjuangan   para   penduduk  pribumi yang  di didik  dan di  latih oleh  militer jepang. Silahkan simak tulisan dari ganang parto yang saya recopast dalam blog ini:


Sejak kemunculan Andaryoko Wisnuprabu (telah meninggal pada Rabu 03 Juni 2009), seorang pria berusia 89 tahun asal Semarang Jawa Tengah yang mengaku sebagai panglima Tentara Keamanan Rakyat Supriyadi dan memimpin Pemberontakan Tentara PETA di Blitar pada 14 Februari 1945, beberapa kawan jurnalis memang banyak yang menghubungi saya untuk mengumpulkan data yang pernah saya himpun, tatkala saya menyiapkan pembuatan film dokumenternya di Blitar.


Benar tidaknya pengakuan Andaryoko Wisnuprabu adalah Supriyadi, seperti yang ditulis oleh sejarawan Baskara T.Wardaya dalam bukunya Mencari Supriyadi, setuju atau tidak masyarakat terhadap pernyataan Andaryoko, ia telah mendorong berbagai pihak untuk berpikir ulang mengenai sejarah. Narasi sejarah yang selama ini didengar tidak sepenuhnya benar. Terutama sejarah yang tujuannya untuk kepentingan tertentu. Dengan itu masyarakat disadarkan bahwa peristiwa sejarah merupakan sesuatu yang multiinterpretasi. Sejarah juga dapat ditafsir ulang. Fakta yang ada mungkin sama, tetapi interpretasi atas makna bisa berbeda. (Kompas.com 04 Juni 2009).






Buku ‘Mencari Supriyadi’ yang kali pertama di luncurkan di Semarang, pada Sabtu 9 Agustus 2008 itu memang menuai kontoversi. Di berbagai belahan Indonesia, khususnya di Jawa Timur, kehebohan terjadi. Berbagai pendapat, pro dan kontra tersulut karena pernyataan menghentakkan itu. Di Blitar apalagi. Sampai sampai pihak Pemerintah Kota Blitar menggelar acara khusus dengan menghadirkan Andaryoko ‘Supriyadi’ untuk didengar kesaksiannya. Keluarga besar Supriyadi yang tinggal di Jakarta, Bogor dan Blitar mengeluarkan pernyataan keras; “Andaryoko bukan Supriyadi anggota keluarga kami”.






Sebagai pelaksana pembuatan produksi film semi documenter “Pemberontakan PETA BLITAR” yang didanai oleh Pemerintah kota Blitar Jawa Timur Pada akhir 2006 awal 2007 lalu, rasanya saya perlu re-posting/posting ulang tulisan saya mengenai peristiwa besar ini. Sekali lagi saya tidak akan mempersoalkan keberadaan siapapun yang pernah mengaku dirinya “Shodanco Supriyadi”. Namun hanya sekadar mengingatkan kepada siapapun, akan makna tanggal 14 Februari.


Tulisan ini juga untuk sekadar mengingatkan kepada siapapun diantara anda yang dengan secara sengaja me-reposting ulang tulisan karya saya ini, di berbagai laman di internet dengan TANPA MENYEBUTKAN SUMBERnya.




==============================
TULISAN SAYA SETAHUN YANG LALU
==============================




Ini hanya sebuah bahasa bathin, yang saya tuliskan dalam rangkaian kata demi kata yang mewakili perjalanan telisik saya akan makna tanggal 14 Februari. Tanpa bermaksud mengesampingkan narasumber lain dan data manapun serta catatan sejarah perjuangan bangsa , tulisan ini hanya sebuah ungkapan pribadi saya dalam upaya merekam jejak SUPRIYADI dan BENDERA MERAH PUTIH 14 FEBRUARI 1945.



JEPANG, TENTARA PETA, BLITAR & SUPRIYADI


Pemberontakan Tentara Pembela Tanah Air (PETA) pada 14 Februari 1945, hingga kini masih menyisakan berbagai pertanyaan, khususnya mengenai Shodanco Supriyadi, sang inisiator yang sekaligus pemimpin perlawanan terhadap tuannya itu. Disebut tuannya, karena Tentara PETA yang beranggotakan para pemuda pribumi Indonesia itu adalah didikan tentara Pendudukan Jepang, yang akhirnya malah memakan tuannya. Murid melawan Guru.


Dan kala itu Tentara PETA Daidan Blitar-lah, yang kali pertama melawan tuannya, Jepang yang sedang bercahaya di Asia. Beberapa pemberontakan, sebenarnya telah terjadi sebelumnya yang dibidani oleh para ulama dan tokoh masyarakat di berbagai tempat di Indonesia. Setelah Peristiwa Daidan Blitar, Tentara PETA di tempat lain juga melakukan hal yang sama, seperti yang dilakukan oleh Shodanco Supriyadi dan kawan kawannya. Satu benang merah yang bisa disimpulkan dari masing masing perlawanan dan pemberontakan itu adalah Indonesia sudah tidak mau dijajah lagi, Indonesia harus Merdeka.





Penderitaan rakyat di berbagai tempat di bumi Nusantara kala itu sudah sangat parah. Harga diri bangsa yang diinjak injak, kemiskinan, kelaparan dan berbagai kesengsaraan menjangkiti sendi kehidupan. Ibaratnya, sore sakit malam mati, malam sakit pagi mati, pagi sakit siang mati, siang sakit malam mati, begitu seterusnya tiada henti. Demikianlah kira – kira yang dapat dilukiskan, dari satu sudut pandang mengenai keberadaan rakyat Indonesia yang dimobilisasi sebagai Romusha. Setiap hari, ratusan nyawa menjadi tumbal bagi kemerdekaan bangsa ini.


Pemandangan menyesakkan dada dan membuat perih mata bathin itu pula yang akhirnya membakar nasionalisme Shodanco Supriyadi dan kawan – kawannya di markas tentara PETA Blitar, dan benar benar menyala sebagai kobaran api patriotisme pada hari Selasa Legi Malam Rabu Pahing 14 Februari 1945. Meski dalam hitungan jam, nyala api pemberontakan itu dapat dipadamkan, tak urung membuat pihak Tentara Pendudukan Jepang di Blitar serasa kebakaran jenggot. Serta merta, berbagai upaya di lakukan pihak Jepang untuk mengeliminir agar peristiwa itu tidak menyebar informasinya bahkan menjangkiti Daidan PETA di tempat lain untuk turut berontak.





Pemberontakan PETA ini, walaupun dari sisi kejadiannya terlihat kurang efektif karena hanya berlangsung dalam beberapa jam dan mengakibatkan tertangkapnya hampir seluruh anggota pasukan PETA yang memberontak, kecuali Supriyadi namun dari sisi dampak yang ditimbulkan, peristiwa ini telah mampu membuka mata dunia. Sekali lagi pemberontakan PETA telah menggoreskan tinta emas dalam sejarah perjuangan bangsa Indonesia, karena peristiwa tersebut merupakan satu satunya pemberontakan yang dilakukan oleh tentara didikan Jepang. Bahkan, pemberontakan ini boleh dikata sebagai satu-satunya fenomena anak didik Jepang yang berani melawan tuannya diseluruh kawasan Asia Tenggara dan Asia Timur yang dijajah Kolonial Jepang.


MENCARI SUPRIYADI


Lebih dari 20 orang nara sumber (pelaku pemberontakan banyak yang sudah meninggal dunia) baik yang bersinggungan langsung atau tidak dengan peristiwa pemberontakan PETA Blitar pernah memberikan keterangan kepada saya. Mereka dengan lancar mengisahkan keterlibatan dirinya dalam peristiwa pemberontakan PETA Blitar, 64 tahun yang silam. Mereka diantaranya adalah mantan anggota tentara PETA Blitar berpangkat Gyuhei, Budhanco, bahkan eks Shodanco, meski bukan dari Daidan Blitar. Di hari tuanya, mereka tersebar di berbagai pelosok dan sudut Blitar, hanya tinggal beberapa orang saja.


Beberapa ahli waris pelaku pemberontakan PETA, mulai dari keluarga Supriyadi di Blitar pun tak luput dari incaran untuk dapat kembali mengisahkan suasana kala itu. Saya melengkapinya dengan menelisik ulang dengan mendatangi nara sumber lainnya. Disebutkan dari berbagai buku mengenai sejarah pemberontakan PETA, terakhir kali terlihat Shodanco Supriyadi berada di kediaman Hardjomiarso, Kepala Desa Sumberagung Kecamatan Gandusari (bahkan desa Sumberagung juga sempat dijadikan markas terakhir pemberontakan). Tak dapat saya temukan narasumber yang bisa memberikan keterangan mengenai sosok Hardjomiarso. Namun demikian, makam sosok Lurah yang banyak membantu Tentara PETA itu dapat saya temukan di desa Sumberagung Gandusari Kabupaten Blitar. Makam keluarga itu terawat dengan baik. Sebuah saksi yang tidak mampu bertutur.


Air terjun Sedudo, di Nganjuk adalah sebuah tempat lainnya di Jawa Timur yang konon menjadi tempat yang pernah disinggahi oleh Supriyadi, pasca pemberontakan. Sebuah nama tertulis juga dalam buku sejarah pemberontakan PETA, bahwa yang bersangkutan ikut membantu “menyembunyikan” Supriyadi dalam sebuah gua di puncak bukit dekat Sedudo. Dalam cuaca berkabut dan hujan deras, bersama seorang ahli waris “si penyembunyi” akhirnya saya berusaha untuk mendatanginya. Tak terjawabkan pula, dimana Supriyadi berada.


Krisik, adalah sebuah desa di wilayah Kabupaten Blitar yang berbatasan dengan wilayah Kabupaten Malang. Sebuah gua pertahanan jaman Jepang terdapat di sana. Seharian penuh, akhirnya saya dapat mencapai lokasi dimaksud. Dari data yang saya peroleh, disebutkan tentara PETA dan para romusha yang membuat gua – gua pertahanan dimaksud. Tak saya dapatkan keterangan tambahan mengenai keberadaan Supriyadi.


Pantai Tambak, Pantai Jolosutro, Pantai Serang di Blitar Selatan. Dilokasi ini, dulu tentara PETA Blitar membuat pertahanan, berlatih dan dengan mata telanjang, mereka melihat ratusan romusha bekerja paksa hingga menemui ajalnya. Supriyadi pernah berada dilokasi dimaksud. Namun kembali tak ada narsumber yang mampu bertutur mengenai adanya.


Panceran desa Ngancar Kecamatan Ngancar di Kabupaten Kediri, dilereng Gunung Kelud juga emplasemen Perkebunan Sumberlumbu, Perkebunan Sumberpetung telah pula saya datangi. Lereng Kelud adalah salah satu tempat yang dijadikan basis gerilya pasca pembontakan. Tak ada keterangan yang bisa menyebut akan keberadaan Supriyadi.


Saksi keberadaan Supriyadi yang masih ada hingga saat ini adalah Bangunan bekas Markas Tentara PETA di jalan Shodanco Supriyadi Blitar. Di kawasan yang kini dijadikan komplek pendidikan ini, terdapat bekas kamar tidur Supriyadi, dapur tentara PETA, bahkan kini telah berdiri megah monumen PETA Blitar. Tujuh patung terwujud disana menggambarkan wajah mereka pada saat pemberontakan terjadi 14 Februari 1945.


MENCARI SANG MERAH PUTIH
14 FEBRUARI 1945



Bicara mengenai pemberontakan PETA Blitar, sebenarnya tidak hanya bicara mengenai sosok Supriyadi yang misterius. Seketika setelah pemberontakan berlangsung sebuah bendera (yang akhirnya kini menjadi bendera Republik Indonesia) warna merah putih, berkibar di Blitar.


Adalah Parthohardjono (Tentara PETA Blitar), seorang yang dengan gagah berani megibarkan merah putih di lapangan depan markas Tentara PETA Blitar. Tempat itu, kini masuk dalam kawasan taman makam pahlawan Raden Wijaya, kota Blitar, persis di seberang monumen PETA Blitar. Sebuah catatan menyebut, pasca proklamasi kemerdekaan, tahun 1946 Panglima Besar Jenderal Sudirman mengunjungi tempat ini, sekaligus menyematkan karangan bunga.


Parthohardjono, yang kala itu tidak tinggal didalam asrama Tentara PETA Blitar (karena telah menikah), memilih tinggal indekos disebuah rumah tak jauh dari asrama. Bersama istrinya, berbulan – bulan memang telah menyiapkan kain merah (bekas kain penutup peti/ kotak peluru/ amunisi) dan kain putih, bekas sarung bantal untuk akhirnya dijadikan bendera. Disimpan sangat hati – hati, agar tidak ketahuan tentara Jepang, akhirnya berhasil pula menyelundupkan bendera tersebut dan dibawa persis waktu malam pemberontakan.


Ketika pemberontakan berlangsung, ketika mortir diledakkan, ketika aba aba komando tanda mulainya pemberontakan di serukan oleh Supriyadi, malam itu Kota Blitar benar benar mencekam suasananya. Hiruk pikuk tentara PETA yang mulai melakukan pemberontakan terhadap tuannya itu, makin membuat keberanian Parthohardjono memuncak.




Ia menuju tiang bendera di sisi utara lapangan markas PETA Blitar. Dengan kidmad, sang saka merah putih dinaikkan. Dalam posisi siap tegak berdiri, Parthohardjono melakukan hormat bendera. Sesaat setelahnya, dia bersujud di tanah lapang itu, mencium tanah tiga kali dengan mata berkaca – kaca haru, yakin bahwa malam itu Indonesia Merdeka.Keterangan ini tidak saja termuat dalam buku sejarah pemberontakan PETA. Ini adalah sebuah keterangan yang disampaikan oleh menantu Parthohardjono, di Blitar. Di hari tuanya, Parthohardjono memilih untuk tetap menjadi rakyat biasa. Parthohardjono, lebih dikenal dengan nama sebutan Partho Wedhus. Wedhus adalah kambing dalam bahasa Jawa. Memang, dihari tuanya Parthohardjono, sering membantu para petani dan tetangga desanya dengan menyumbangkan kambing untuk diternak dengan sitem bagi hasil.


Sayang, hanya sebuah makam yang dapat saya temui. Yang tidak bisa bercerita langsung akan peristiwa heroik itu. Permintaan Partohardjono kepada putrinya kala itu, “ Jika waktunya tiba, aku jangan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan”. Makam Parthohardjono, sang pengibar bendera merah putih 14 Februari 1945 itu (6 bulan sebelum Proklamasi 17 Agustus 1945) berada disebuah makam desa, nun jauh dari Kota Blitar. Sebuah makam sederhana tanpa embel embel PAHLAWAN.Kemana merah putih yang telah berkibar pada 14 Februari 1945 itu, hingga kini tidak ada seorangpun yang mampu menunjukkannya.



REFLEKSI 14 FEBRUARI 1945


Kobaran Api Patriotisme dan Nasionalisme Pemberontakan PETA Blitar itu, hingga kini masih menyala, dan menjelma sebagai sebuah spirit khususnya bagi pemerintah kota Blitar dan warganya. Pun juga Kabupaten Blitar. Umumnya bagi Pemerintah Republik Indonesia.





Sudah seharusnya spirit itu mampu menjadi cambuk bagi Pemerintah dalam memperjuangkan kepentingan memakmurkan rakyatnya. Betapa Supriyadi telah nyata memberikan bukti untuk melawan kesewang wenangan, melawan penindasan, melawan penjajah. Bukankah Parthohardjono telah memberikan tauladan keberanian dan semangat perjuangan yang begitu besarnya, karena kecintaanya kepada Tanah Air. Bukankah, tentara PETA rela meregang nyawa untuk menunjukkan bahwa Indonesia mampu sejajar dengan bangsa dan terbebas dari belenggu penjajahan.


Sungguh ironis kiranya, jika pemberontakan PETA BLITAR hanya membekas sebagai sebuah catatan sejarah belaka. Sungguh ironis jika peristiwa heroik itu hanya diagendakan untuk diperingati tiap tahunnya dalam sebuah seremonial tanpa makna. Dan sungguh ironis jika pemerintahan negeri ini, malah membuat rakyatnya miskin dan terjajah, dan tak mampu membuat sejahtera rakyatnya.

Euforia 14 Februari: Shodanco Supriyadi, Sejarah yang terlewatkan

Comments : 0
>
<

Labels

Total Pageviews

Facebook

Twitter

- Copyright © 2013 Muhammad Khoirul Huda - DJogzs - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -